10 July 2017

Pasokan dari AS Susut Bikin Harga Minyak Naik

Liputan6.com, New York Harga minyak berjangka berakhir sedikit lebih tinggi memperpanjang relinya di sesi keenam berturut-turut. Ini setelah produksi minyak mentah AS turun yang mengurangi kekhawatiran tentang membanjirnya pasokan di dunia.


Melansir laman Reuters, Jumat (30/6/2017), harga kontrak minyak mentah AS berakhir naik 19 sen menjadi US$ 44,93 per barel setelah mencapai level tertinggi dalam dua minggu di US$ 45,45 pada.

Pasar turun dari level tertinggi setelah Societe Generale menjadi bank investasi ketiga yang mengurangi prospek harga minyak pada pekan lalu.

Harga minyak mentah mencapai level terendah 10 bulan pada minggu lalu, namun telah pulih lebih dari 5 persen, memperpanjang bull mereka yang mencapai posisi terpanjang sejak April.

Sementara harga minyak mentah Brent berakhir naik 11 sen menjadi US$ 47,42 per barel, setelah menyentuh level tertinggi dalam dua minggu di US$ 48,03 per barel.

"Setelah penurunan tajam harga minyak dalam beberapa pekan terakhir, saya percaya, terutama hedge fund melihat momentum pembelian yang bagus dan produksi minyak mentah AS yang lebih rendah merupakan pemicu untuk bertindak," kata Hans van Cleef, Ekonom Energi Senior di ABN Amro.

Analis tidak yakin apakah sentimen bearish mereda di pasar minyak, mengingat persediaan yang masih lebih besar dari biasanya di Amerika Serikat pada minyak mentah dan produk utama seperti bensin.

"Rasanya seperti gelombang penjualan telah surut untuk saat ini," tulis analis Credit Suisse. Namun, mereka menambahkan bahwa rebound harga mencerminkan pembelian teknis daripada perubahan fundamental.

Produksi minyak mentah AS turun 100 ribu barel per hari (bpd) menjadi 9,3 juta barel per hari pekan lalu, penurunan mingguan paling curam sejak Juli 2016.

Namun analis mengatakan penurunan tersebut terkait dengan faktor sementara, termasuk penutupan produksi sebagai tindakan pencegahan di Teluk Meksiko karena Badai Tropis Cindy, bersamaan dengan perawatan di Alaska.

Pasokan minyak global tetap cukup meski terjadi penurunan produksi sebesar 1,8 juta bph oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen lainnya sejak Januari.